Main Article Content
Abstract
Indonesia possesses a vast cultural diversity, including the Bugis-Makassar ethnic group in South Sulawesi, which maintains a unique marriage tradition known as Uang Panai’. Distinct from the dowry, Uang Panai’ is a customary requirement representing a marriage endowment provided by the groom that serves as a symbol of social status, prestige, and a determinant for the success of a wedding, though its high cost often leads to canceled marriages or the occurrence of Silariang. This study aims to provide solutions to the issues surrounding the fluctuating and often exorbitant costs of Uang Panai’ through a quantitative method using frequency distribution to measure the relationship between the uncertain value of Uang Panai’ as the dependent variable and factors such as education, occupation, economic status, lineage, physical appearance, and social environment as independent variables. The results indicate that Uang Panai’ significantly influences the implementation of marriages, with its amount being determined by the aforementioned social factors, leading to the conclusion that an ideal solution requires the establishment of regional regulations as a legal framework. Consequently, this study recommends the necessity of legal counseling regarding marriage requirements and urges local governments in South Sulawesi to formulate Peraturan Daerah to provide legal certainty and moderate the implementation of this tradition.
Keywords
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
- Alhamdani. (1980). Risalah nikah hukum perkawinan Islam. Pustaka Imani.
- Aswah, S. R. (2021). Mencicil uang panai’: Studi kasus tentang pernikahan di Kabupaten Bantaeng
- Azhar, A. (1977). Hukum perkawinan Islam. Fakultas Hukum UII.
- Juhansyah. (2021). Fenomena dan implikasi uang panai’ terhadap pernikahan di Desa Datara, Kec. Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Repositori UIN Alauddin Makassar. https://repositori.uin-alauddin.ac.id/27009/
- Martosedono, A. (2001). Apa dan bagaimana Undang-Undang No. 1 Tahun 1974. Grafindo Persada.
- Nawi, S. (2021). Sosiologi hukum & teori efektifitas hukum. Kretakupa Print.
- Nawi, S., dkk. (2019). Litigasi dan non litigasi dalam penyelesaian konflik sosial. Kretakupa Print.
- Nawi, S., dkk. (2022). Penelitian hukum normatif versus penelitian hukum empiris. Kretakupa Print.
- Nirmawati, Bahtiar, & Anggraini, D. (2021). Uang panai’ dalam perkawinan suku Bugis. SOCIETAL: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, 8(1).
- Nurdin, A. (1981). Hukum perceraian menurut Undang-Undang Perkawinan (UU No. 1/1974). Pustaka Jaya.
- Rinaldi. (2022). Uang panai sebagai harga diri perempuan suku Bugis Bone. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 10(2). https://journal.unismuh.ac.id/index.php/equilibrium/article/view/8411
- Salle. (2023). Materi perkuliahan “Hukum Perkawinan” (Hukum Perdata) [Bahan Ajar Perkuliahan]. Fakultas Hukum.
- Sardari, A. A. (2025). Belis dan uang panai’ [Disertasi tidak dipublikasikan]. Berita Kota Fajar. https://beritakotamakassar.fajar.co.id/2025/02/04/ahmad-asif-sardari-raih-gelar-doktor-dengan-disertasi-belis-dan-uang-panai/
- Siegel, S. (1988). Statistik nonparametrik untuk ilmu-ilmu sosial. Gramedia.
- Van Zanten, W. (1982). Statistika untuk ilmu-ilmu sosial. Gramedia.
- Wignyodipuero, S. (1995). Pengantar dan asas-asas hukum adat. Gunung Agung.
References
Alhamdani. (1980). Risalah nikah hukum perkawinan Islam. Pustaka Imani.
Aswah, S. R. (2021). Mencicil uang panai’: Studi kasus tentang pernikahan di Kabupaten Bantaeng
Azhar, A. (1977). Hukum perkawinan Islam. Fakultas Hukum UII.
Juhansyah. (2021). Fenomena dan implikasi uang panai’ terhadap pernikahan di Desa Datara, Kec. Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Repositori UIN Alauddin Makassar. https://repositori.uin-alauddin.ac.id/27009/
Martosedono, A. (2001). Apa dan bagaimana Undang-Undang No. 1 Tahun 1974. Grafindo Persada.
Nawi, S. (2021). Sosiologi hukum & teori efektifitas hukum. Kretakupa Print.
Nawi, S., dkk. (2019). Litigasi dan non litigasi dalam penyelesaian konflik sosial. Kretakupa Print.
Nawi, S., dkk. (2022). Penelitian hukum normatif versus penelitian hukum empiris. Kretakupa Print.
Nirmawati, Bahtiar, & Anggraini, D. (2021). Uang panai’ dalam perkawinan suku Bugis. SOCIETAL: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, 8(1).
Nurdin, A. (1981). Hukum perceraian menurut Undang-Undang Perkawinan (UU No. 1/1974). Pustaka Jaya.
Rinaldi. (2022). Uang panai sebagai harga diri perempuan suku Bugis Bone. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 10(2). https://journal.unismuh.ac.id/index.php/equilibrium/article/view/8411
Salle. (2023). Materi perkuliahan “Hukum Perkawinan” (Hukum Perdata) [Bahan Ajar Perkuliahan]. Fakultas Hukum.
Sardari, A. A. (2025). Belis dan uang panai’ [Disertasi tidak dipublikasikan]. Berita Kota Fajar. https://beritakotamakassar.fajar.co.id/2025/02/04/ahmad-asif-sardari-raih-gelar-doktor-dengan-disertasi-belis-dan-uang-panai/
Siegel, S. (1988). Statistik nonparametrik untuk ilmu-ilmu sosial. Gramedia.
Van Zanten, W. (1982). Statistika untuk ilmu-ilmu sosial. Gramedia.
Wignyodipuero, S. (1995). Pengantar dan asas-asas hukum adat. Gunung Agung.