Main Article Content
Abstract
Using a juridical and socioecological approach, this study examines the role of the Igya Ser Hanjob customary legal system in mitigating climate change in the Arfak Mountains, West Papua. Igya Ser Hanjob, which literally means "guarding boundaries," is the local wisdom of the Hatam people that regulates land management and environmental conservation in a balanced, sustainable manner, and contains deep spiritual values. This system regulates no-go zones, land rotation management, prohibitions on felling large trees, and an effective community oversight mechanism for maintaining biodiversity and ecosystem stability. The study employed qualitative methods, including in-depth interviews with four Hatam tribal leaders, participant observation, and reviewing relevant national and regional legal documents. Thematic analysis was applied to uncover ecological principles, adaptation practices, and the challenges and external support faced by Igya Ser Hanjob. The results indicate that although this customary legal system has received normative recognition in the constitution and several national regulations, its implementation remains suboptimal due to obstacles to administrative recognition, the lack of specific regional regulations, and the minimal involvement of indigenous communities in the legislative process. This phenomenon has resulted in the potential of local wisdom for climate mitigation not being fully realized. At the same time, pressures of exploitation and development have the potential to threaten the sustainability of the Arfak Mountains ecosystem. Discourse analysis reveals that Igya Ser Hanjob serves as a discourse that integrates the ecological and spiritual values of indigenous communities, while also serving as a platform for negotiation between customary law and formal law, which often marginalizes the role of indigenous communities. This study emphasizes the importance of stronger integration of customary law with national climate change mitigation policies through formal recognition, participatory mapping, and strengthening the legal capacity of indigenous communities. This approach strengthens ecological protection and empowers indigenous communities as primary guardians of a sustainable environment. Thus, this study confirms the relevance of Igya Ser Hanjob as a foundation for ecological ethics and law that can serve as an effective local strategy in addressing climate change and encouraging inclusive and contextual environmental policy reform in West Papua.
Keywords
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (2020). Panduan Tata Kelola Wilayah Adat. Jakarta: AMAN.
- AMAN. (2020). Panduan Hukum Adat dan Konflik Wilayah Adat. Jakarta: AMAN.
- CIFOR. (2021). "Community Forest Patrols in Indonesia." Working Paper.
- CIFOR. (2022). "Indigenous Forest Governance and Climate Resilience." Working Paper.
- Dove, M.R. (2011). The Banana Tree at the Gate. Yale University Press.
- Ehrlich, E. (1936). Fundamental Principles of the Sociology of Law. Harvard University Press.
- Gadgil, M., Berkes, F., & Folke, C. (1993). "Indigenous Knowledge for Biodiversity Conservation." Ambio, 22(2/3).
- Hooker, M.B. (2008). Indonesian Syariah. Singapore: ISEAS.
- Idrus, N. (2009). Observasi sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Jurnal Pendidikan, 10(2), 101-110.
- Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Geneva: IPCC.
- Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. Jakarta.
- Keraf, A.S. (2002). Filsafat Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius.
- Keraf, A.S. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas.
- Li, T.M. (2007). The Will to Improve. Duke University Press.
- Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2012). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat bukan Bagian dari Hutan Negara. Jakarta.
- Marshal, C. (2006). Understanding qualitative research. In Sarwono, J. (Ed.), Penelitian Kualitatif dan Kearifan Lokal (hlm. 193-210). Yogyakarta: Pustaka Akademik.
- Provinsi Papua Barat. (2022). Peraturan Daerah Provinsi Papua Barat Nomor 3 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Papua Barat Tahun 2022-2041. Lembaran Daerah Provinsi Papua Barat Tahun 2022 Nomor 3.
- Purbokurniawan, A., Santoso, H., & Dewi, R. (2019). Zona pemanfaatan lahan pertanian dan konsep Igya Ser Hanjop sebagai kearifan lokal di Pegunungan Arfak. Prosiding Seminar Nasional Agroteknologi, 123-134.
- Safitri, M. A. (2013). “Hukum Adat dan Perlindungan Lingkungan.” Jurnal Hukum dan Pembangunan, 43(1), 64–82.
- Sarwono, J. (2006). Kualitatif riset: Suatu proses memahami kompleksitas interaksi manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Sayori, D., Mahmud, F., & Sari, L. (2024). Sistem hukum adat Igya Ser Hanjob: Normatif dan praktik dalam pelestarian lingkungan masyarakat Suku Hatam, Papua Barat. Jurnal Kajian Antropologi, 15(2), 45-60.
- Sari, N., & Pratama, B. (2023). Pengelolaan tanah dan pertanian berkelanjutan masyarakat Arfak berdasarkan Igya Ser Hanjob di sekitar Danau Anggi, Papua Barat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 28(1), 55-70.
- Situmorang, D. (2017). Hukum Adat dan Identitas Lokal. Jakarta: Obor.
- Sugiyono. (2011). Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Republik Indonesia. Pasal 18B ayat (2)
- Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5028.
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495.
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587.
- Widodo, T. (2020). Integrasi kearifan lokal dan hukum positif dalam pengelolaan hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak: Studi kasus masyarakat adat Hatam. Disertasi, Universitas Gadjah Mada. Repository UGM.
- Yin, R. K. (2009). Case study research: Design and methods (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
- Yuliana, R., & Hartono, S. (2015). Analisis strategi pengelolaan hutan berbasis budaya dan ekologi masyarakat Hatam di Pegunungan Arfak. Jurnal Masyarakat Lokal UGM, 9(3), 134-148.
- Zerner, C. (2000). People, Plants and Justice. Columbia University Press.
References
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (2020). Panduan Tata Kelola Wilayah Adat. Jakarta: AMAN.
AMAN. (2020). Panduan Hukum Adat dan Konflik Wilayah Adat. Jakarta: AMAN.
CIFOR. (2021). "Community Forest Patrols in Indonesia." Working Paper.
CIFOR. (2022). "Indigenous Forest Governance and Climate Resilience." Working Paper.
Dove, M.R. (2011). The Banana Tree at the Gate. Yale University Press.
Ehrlich, E. (1936). Fundamental Principles of the Sociology of Law. Harvard University Press.
Gadgil, M., Berkes, F., & Folke, C. (1993). "Indigenous Knowledge for Biodiversity Conservation." Ambio, 22(2/3).
Hooker, M.B. (2008). Indonesian Syariah. Singapore: ISEAS.
Idrus, N. (2009). Observasi sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Jurnal Pendidikan, 10(2), 101-110.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Geneva: IPCC.
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. Jakarta.
Keraf, A.S. (2002). Filsafat Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius.
Keraf, A.S. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas.
Li, T.M. (2007). The Will to Improve. Duke University Press.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2012). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat bukan Bagian dari Hutan Negara. Jakarta.
Marshal, C. (2006). Understanding qualitative research. In Sarwono, J. (Ed.), Penelitian Kualitatif dan Kearifan Lokal (hlm. 193-210). Yogyakarta: Pustaka Akademik.
Provinsi Papua Barat. (2022). Peraturan Daerah Provinsi Papua Barat Nomor 3 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Papua Barat Tahun 2022-2041. Lembaran Daerah Provinsi Papua Barat Tahun 2022 Nomor 3.
Purbokurniawan, A., Santoso, H., & Dewi, R. (2019). Zona pemanfaatan lahan pertanian dan konsep Igya Ser Hanjop sebagai kearifan lokal di Pegunungan Arfak. Prosiding Seminar Nasional Agroteknologi, 123-134.
Safitri, M. A. (2013). “Hukum Adat dan Perlindungan Lingkungan.” Jurnal Hukum dan Pembangunan, 43(1), 64–82.
Sarwono, J. (2006). Kualitatif riset: Suatu proses memahami kompleksitas interaksi manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sayori, D., Mahmud, F., & Sari, L. (2024). Sistem hukum adat Igya Ser Hanjob: Normatif dan praktik dalam pelestarian lingkungan masyarakat Suku Hatam, Papua Barat. Jurnal Kajian Antropologi, 15(2), 45-60.
Sari, N., & Pratama, B. (2023). Pengelolaan tanah dan pertanian berkelanjutan masyarakat Arfak berdasarkan Igya Ser Hanjob di sekitar Danau Anggi, Papua Barat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 28(1), 55-70.
Situmorang, D. (2017). Hukum Adat dan Identitas Lokal. Jakarta: Obor.
Sugiyono. (2011). Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Republik Indonesia. Pasal 18B ayat (2)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5028.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587.
Widodo, T. (2020). Integrasi kearifan lokal dan hukum positif dalam pengelolaan hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak: Studi kasus masyarakat adat Hatam. Disertasi, Universitas Gadjah Mada. Repository UGM.
Yin, R. K. (2009). Case study research: Design and methods (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Yuliana, R., & Hartono, S. (2015). Analisis strategi pengelolaan hutan berbasis budaya dan ekologi masyarakat Hatam di Pegunungan Arfak. Jurnal Masyarakat Lokal UGM, 9(3), 134-148.
Zerner, C. (2000). People, Plants and Justice. Columbia University Press.